Setelah penyerbuan ke Tabuk, Rasulullah saw banyak menerima tamu-tamu dari luar Madinah yang ingin bergabung atau menyatakan tunduk di bawah pemerintahan Madinah. Kian lama nama Rasulullah saw dikenal sehingga banyak orang yang ingin menemuinya. Ada yang ingin sekadar tahu, juga ada yang sengaja ingin membuktikan kenabian Muhammad bin Abdullah. Yang terakhir ini datang dari Najran, kawasan Hijaz yang mayoritas beragama Kristen.
Najran merupakan wilayah yang terdiri
dari tujuh puluh dua desa yang terletak di perbatasan Hijaz dan Yaman.
Rasulullah saw sendiri pernah mengirimkan surat ajakan memeluk Islam untuk
penduduk dan pemimpin-pemimpin Najran. Kemudian enam puluh orang, yang di
dalamnya bersama tiga orang ahli agama Kristen, berkunjung ke Madinah. Mereka
bertemu dengan Nabi Muhammad saw. Nabi Muhammad saw tidak menghiraukan mereka.
Utusan-utusan Najran heran dengan sikap Rasulullah saw yang membiarkan mereka.
Seorang sahabat memberitahukan bahwa Rasulullah saw tidak senang kalau
berbincang atau bertemu dengan orang yang berpenampilan mewah dengan
menunjukkan aksesoris mahal berupa kalung dan gelang emas serta salib.[1]
Setelah diberitahu, segera mereka
mengenakan baju biasa kemudian diterima oleh Rasulullah saw. Dalam pertemuan itu
terjadi diskusi mengenai sosok Nabi Isa as. Tokoh agama Kristen Najran tetap
bersikukuh bahwa Isa adalah anak Tuhan. Sedangkan Rasulullah saw menolaknya
karena Isa as putra Maryam adalah Nabi dan Rasul Allah. Orang Najran tetap
bertahan dengan argumennya, bahkan menantang Rasulullah saw untuk membuktikan
kebenaran di antara mereka dengan jalan mubahalah;
berdoa kepada Allah meminta supaya ditimpakan azab bagi pihak yang salah. Sang Nabi dan tokoh
Najran pun sepakat untuk melakukan mubahalah di tempat terbuka.
Pada hari mubahalah itu
Rasulullah saw membawa putrinya (Sayidah Fathimah Az-Zahra) dan menantunya (Ali
bin Abi Thalib) serta dua cucunya (Imam Hasan dan Imam Husain). Rasulullah saw
tidak mengajak sahabat-sahabat dekatnya yang dibawa
menyertai dalam mubahalah.
Di gurun yang sudah ditentukan, kedua
belah pihak berkumpul. Rasulullah saw berdoa yang diamini putrinya, menantu,
dan cucunya. Orang-orang Najran yang berada di sekitar gurun mulai gelisah saat
melihat gumpalan awan melindungi Rasulullah saw dan keluarganya. Angin panas
mulai berembus hendak mengarah pada para penantang. Orang-orang Najran sadar
bahwa kebenaran berada pada pihak Rasulullah saw sehingga meminta untuk tidak
melanjutkan mubahalah. Utusan Najran
menyatakan siap menerima aturan-aturan yang dibuat pemerintah Madinah. Mereka
siap untuk membayar pajak (jizyah)
dan membantu kaum Muslim kalau membutuhkan pertolongan.[2]
Peristiwa mubahalah ini jarang ditulis dalam buku-buku sejarah. Padahal,
datanya kuat dan memiliki nilai dakwah yang luar biasa, khususnya pelajaran
bagi kaum Muslim yang berselisih paham dengan non-Islam dapat menirunya.
Kemungkinan karena menyangkut kekalahan non-Islam sehingga para orientalis pun
tidak menuliskannya.