Sabtu, 27 Desember 2025

Metahistory dan Rekonstruksi Sejarah: Dialog Hayden White, Hegel, Ibn Khaldun, dan Foucault

Sejarah tidak pernah hadir sebagai masa lalu yang utuh dan transparan. Ia selalu sampai kepada kita melalui proses seleksi, penafsiran, dan penyusunan ulang. 

Dalam filsafat sejarah dan historiografi modern, kesadaran inilah yang menjadi fondasi pemikiran metahistory, terutama sebagaimana dikembangkan oleh Hayden White. 

Melalui pendekatan ini, sejarah dipahami bukan sekadar sebagai rekaman fakta, melainkan sebagai hasil rekonstruksi naratif yang sarat makna.

Selasa, 23 Desember 2025

Dari Mimpi menuju The End of History

Tadi malam saya bermimpi berada di sebuah tempat yang cukup jauh dan sangat luas. Tempat itu menyerupai sebuah gereja—bangunannya besar, lapang, dan terbuka—namun suasananya hidup dan penuh aktivitas. Di sana berlangsung sebuah kegiatan yang menyerupai seminar. Bukan ibadah ritual, melainkan pertemuan intelektual dan reflektif yang membahas persoalan keagamaan, kemanusiaan, dan terutama pencegahan kerusakan lingkungan serta masa depan manusia.

Suasana seminar terasa sangat seru dan menggugah. Para pemateri menyampaikan pandangan dengan bahasa yang mudah dipahami, sesekali diselingi diskusi dan tanggapan dari peserta. Kami menyimak dengan antusias, seakan merasa bahwa apa yang dibicarakan bukan sekadar teori, melainkan sesuatu yang menyentuh langsung kehidupan sehari-hari: tentang alam yang kian rusak, tanggung jawab moral manusia, dan arah peradaban di masa depan. 

Selasa, 02 Desember 2025

Ketika Pintu Belum Terbuka: Sebuah Mimpi dan Refleksi ala Ibnu Qayyim

Pada suatu malam yang sunyi, hadir sebuah mimpi yang mengendap seperti pesan yang belum selesai dibacakan. Dalam mimpi itu, aku bertemu dengan guru besar—sosok yang selama ini menjadi penuntun dan cahaya dalam perjalanan ilmu. 

Kami berpapasan di sebuah tempat yang tak sepenuhnya kukenal, namun terasa dekat di batin. Beliau memandangku, aku pun memandang balik, seolah ada salam yang ingin diucapkan. Namun sebelum kata-kata menemukan jalannya, sang guru justru melangkah cepat, memasuki sebuah ruangan yang penuh tamu, penuh orang yang tampak siap mendengar sesuatu yang sangat penting.

Aku mengikuti langkah itu. Ruangan itu seperti majelis yang sarat makna—penuh perhatian, penuh kehormatan, penuh cahaya ilmu. Aku mencoba memasuki ruangan tersebut, namun sebuah dorongan tak tampak menggiringku kembali keluar. Aku tidak diizinkan untuk masuk. Aku hanya berdiri di ambang pintu, melihat tetapi tidak terlibat, dekat namun tetap di luar.

Mimpi itu meninggalkan jejak tanya: Mengapa aku tidak boleh masuk? Apa makna berada di luar ketika guru besar sedang menyampaikan sesuatu yang berharga? 

Senin, 24 November 2025

Dalam Mimpi, Saya Dianggap Komunis: Analisa Sadra dan Heidegger

Mimpi lagi. Kali ini tentang bapak. Ia seorang kyai di kampung. Ia fanatik dengan agama, sehingga yang mengkritik dan bersebrangan dengan pendapatnya disebut komunis dan tidak beragama.

Pengetahuan tentang komunis sebagai paham orang tak beragama dan benci agama, ia dapatkan dari obrolan dengan orang lain. Ia pegang saja tanpa kritisi atau konfirmasi pada ahlinya. Bahkan tidak merujuk pada sumbernya. Dapat dimaklumi karena akses pada khazanah tersebut terbatas.

Saya pun dianggap komunis karena memberikan pendapat tentang agama, yang bersebrangan dengan paham bapak.