Pengetahuan tentang komunis sebagai paham orang tak beragama dan benci agama, ia dapatkan dari obrolan dengan orang lain. Ia pegang saja tanpa kritisi atau konfirmasi pada ahlinya. Bahkan tidak merujuk pada sumbernya. Dapat dimaklumi karena akses pada khazanah tersebut terbatas.
Saya pun dianggap komunis karena memberikan pendapat tentang agama, yang bersebrangan dengan paham bapak.
Ceritanya dimulai dari sini. Suatu hari ada majelis taklim. Cukup banyak warga ikut serta. Saya masuk dan menyimaknya. Saya lihat pejabat masjid bersama bapak duduk di kursi empuk paling depan. Jamaah lain duduk di belakang dengan kursi seadanya. Saya ikut duduk bersama warga. Lantas tiba adzan untuk shalat, para jamaah pun menegakkan shalat. Saya pun ikut serta sebagai jamaah. Bapak melihat saya. Saya anggukan kepala sebagai hormat.
Selesai dari majelis taklim, saya ke rumah hendak ambil barang. Saat mencari barang, bapak menghampiri dan melayangkan senjata tajam. Saya hindari dan bertanya. Bapak bilang saya komunis tak layak hidup dan tidak beragama, bahaya bagi negara. Saya minta penjelasan kepada bapak tentang pengetahuan komunis dan jaminan kebenaran agama.
Terjadi dialog. Saya beradu argumen. Bapak tak dapat membantah saya. Bapak melihat sendiri saya masih taat melakukan ritual agama.
Lantas dengan pengetahuan seadanya, saya sampaikan pentingnya belajar langsung dari ahlinya dan dari sumber yang terpercaya, termasuk dalam beragama.
Setelah dialog itu, saya pergi. Saat itulah saya terbangun dari mimpi. Kenapa mimpi yang demikian?
Saya coba buka catatan tentang kajian filsafat Mulla Sadra dan Martin Heidegger. Ini menarik disampaikan bahwa keduanya bisa dihubungkan pada subtansi dari mimpi saya tersebut. Bagaimana? Ikut saja dengan membaca perlahan!
Analisa Filsafat
Dalam filsafat Islam Mulla Ṣadrā bahwa ada satu gagasan kunci: yang paling nyata bukanlah label atau konsep, melainkan keberadaan itu sendiri. Manusia kerap terjebak pada nama, kategori, dan stigma, lalu mengira semua itu adalah kenyataan. Dalam mimpi ini, label “komunis” menutupi fakta eksistensial yang justru tampak jelas: seseorang yang masih menjalani ibadah dan berbicara dengan nalar. Konflik yang terjadi bukan antara iman dan kekafiran, melainkan antara konsep yang diwarisi dan keberadaan yang hidup.
Ancaman senjata dalam mimpi tidak semata menggambarkan kekerasan fisik. Ia melambangkan ketakutan yang muncul ketika sebuah keyakinan tidak lagi mampu dipertahankan melalui dialog dan penalaran. Mulla Ṣadrā memandang jiwa manusia sebagai entitas yang senantiasa bergerak dan berkembang. Namun ada jiwa yang berhenti, membeku dalam pemahaman lama. Ketika berhadapan dengan kesadaran yang bergerak, yang bertanya dan memeriksa ulang, jiwa yang membeku itu merasa terancam.
Di sinilah pemikiran Martin Heidegger membantu memperdalam makna mimpi ini. Heidegger menyebut bahwa banyak manusia hidup dalam mode “kata orang”—mengikuti apa yang lazim dipercaya tanpa pernah sungguh-sungguh memeriksanya. Sosok ayah dalam mimpi berbicara dengan suara kolektif, bukan dari pemahaman yang dihayati secara personal. Ia tidak bertanya “apa itu kebenaran?”, melainkan “apa yang biasa dianggap benar?”. Sebaliknya, sang anak mulai mengambil tanggung jawab atas apa yang ia yakini. Ia tidak menolak agama, tetapi menolak menerima begitu saja klaim tanpa dasar.
Dialog antara ayah dan anak dalam mimpi mengguncang dunia makna yang selama ini mapan. Ketika argumen tak lagi mampu dipertahankan, muncullah kegelisahan. Heidegger menyebut kondisi ini sebagai kecemasan eksistensial: rasa goyah ketika pegangan lama mulai runtuh. Dalam situasi seperti ini, perbedaan tidak lagi diperlakukan sebagai undangan berdiskusi, melainkan sebagai ancaman yang harus disingkirkan.
Namun mimpi ini tidak berakhir dengan kekerasan. Ia berakhir dengan kepergian. Kepergian itu penting secara simbolik. Ia bukan tanda kekalahan, melainkan kedewasaan eksistensial. Tidak semua konflik harus dimenangkan, dan tidak semua perbedaan bisa diselesaikan dengan argumen. Ada kalanya, menjaga kesadaran berarti memilih untuk tidak tinggal dalam ruang yang menolak dialog.
Lalu, mengapa mimpi seperti ini muncul? Karena ada luka simbolik yang belum sepenuhnya sembuh: distigma, disalahpahami, dan dianggap ancaman hanya karena berpikir. Mimpi ini menjadi ruang aman bagi kesadaran untuk mengolah konflik tersebut tanpa tekanan sosial. Ia adalah cara batin mengatakan bahwa iman dan nalar tidak harus saling meniadakan.
Pesan terdalam mimpi ini sederhana namun menantang: berpikir kritis tidak selalu berarti meninggalkan agama, dan beragama tidak seharusnya berarti mematikan akal. Mimpi ini bukan tentang melawan ayah, melainkan tentang keberanian menjadi sadar—menjadi manusia yang beriman sekaligus bertanggung jawab atas pikirannya sendiri. ***
