Selasa, 23 Desember 2025

Dari Mimpi menuju The End of History

Tadi malam saya bermimpi berada di sebuah tempat yang cukup jauh dan sangat luas. Tempat itu menyerupai sebuah gereja—bangunannya besar, lapang, dan terbuka—namun suasananya hidup dan penuh aktivitas. Di sana berlangsung sebuah kegiatan yang menyerupai seminar. Bukan ibadah ritual, melainkan pertemuan intelektual dan reflektif yang membahas persoalan keagamaan, kemanusiaan, dan terutama pencegahan kerusakan lingkungan serta masa depan manusia.

Suasana seminar terasa sangat seru dan menggugah. Para pemateri menyampaikan pandangan dengan bahasa yang mudah dipahami, sesekali diselingi diskusi dan tanggapan dari peserta. Kami menyimak dengan antusias, seakan merasa bahwa apa yang dibicarakan bukan sekadar teori, melainkan sesuatu yang menyentuh langsung kehidupan sehari-hari: tentang alam yang kian rusak, tanggung jawab moral manusia, dan arah peradaban di masa depan. 

Karena tempatnya sangat luas, kami bebas berjalan-jalan ke sana ke mari. Di beberapa sudut, tampak bangunan-bangunan yang secara visual dekat dengan suasana pedesaan. Lingkungannya terasa asri, menenangkan, dan menyenangkan, seolah menyiratkan gambaran ideal hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Setelah sesi seminar, tibalah waktu makan. Inilah bagian yang terasa sangat ramai dan penuh kehangatan. Makanan yang disajikan begitu melimpah dengan beragam pilihan yang menggugah selera. Saya melihat sate kambing, sate sapi, serta berbagai olahan daging yang disajikan seperti stik. Semua makanan dipastikan halal dan diperuntukkan bagi kaum muslim. Selain itu, tersedia pula aneka hidangan khas Sunda yang menambah keakraban suasana.

Kami mengantre dengan tertib sambil bercengkerama satu sama lain. Ada rasa kebersamaan yang kuat, seolah kami bukan sekadar peserta seminar, tetapi sebuah komunitas yang disatukan oleh kepedulian yang sama. Setelah selesai makan, kami kembali berjalan-jalan, lalu bergerak menuju tempat awal kedatangan kami.

Setelah seluruh rangkaian aktivitas selesai, kami pun bersiap untuk pergi. Satu per satu, kami kembali ke tujuan masing-masing, berpulang ke rumah-rumah kami dengan membawa kesan dan renungan yang mendalam. "Adzan subuh," kata istri membangunkan saya dari mimpi. Saya termenung. Saya ingat-ingat lagi dengan rangkaian mimpi. Setelah merasa ingat dengan rangkaian cerita dalam mimpi, saya ke kamar mandi untuk wudhu dan melakukan shalat. Selanjutnya dituliskan dan dihubungkan dengan filsafat. Saya percaya mimpi bagian dari pengetahuan yang dapat diambil pesan (makna). 

Masa Depan Manusia dan Akhir Sejarah

Jika mimpi (yang saya alami) dibaca secara reflektif, ia dapat dikaitkan dengan gagasan Francis Fukuyama dalam The End of History. Fukuyama berpendapat bahwa sejarah manusia—dalam arti pergulatan ideologi besar—telah mencapai titik akhirnya pada demokrasi liberal. Namun, mimpi ini justru seolah menghadirkan pertanyaan kritis: benarkah sejarah telah berakhir, jika krisis lingkungan dan masa depan manusia masih menjadi persoalan mendasar?

Seminar tentang pencegahan kerusakan lingkungan dalam mimpi ini dapat dipahami sebagai simbol bahwa sejarah belum selesai. Tantangan manusia modern bukan lagi sekadar pertarungan ideologi, melainkan persoalan etika, tanggung jawab ekologis, dan keberlanjutan peradaban. Demokrasi dan kemajuan teknologi, sebagaimana diprediksi Fukuyama, belum tentu menjamin keselamatan alam dan kemanusiaan jika tidak disertai kesadaran moral dan spiritual.

Tempat yang luas, suasana pedesaan, serta kebersamaan dalam makan bersama menggambarkan kerinduan manusia akan kehidupan yang harmonis—bukan hanya maju secara politik dan ekonomi, tetapi juga seimbang dengan alam dan nilai-nilai spiritual. Dalam konteks ini, mimpi tersebut seolah menjadi kritik halus terhadap optimisme “akhir sejarah” Fukuyama, sekaligus menawarkan pesan bahwa masa depan manusia bergantung pada kemampuan menyatukan kemajuan, etika, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Dalam perspektif filsafat, mimpi (yang saya alami) dapat dibaca sebagai teks simbolik tentang kondisi peradaban manusia kontemporer. Ruang yang sangat luas dan menyerupai gereja, namun diisi dengan seminar lintas tema keagamaan dan kemanusiaan, merepresentasikan apa yang oleh filsafat disebut sebagai ruang publik universal—sebuah arena di mana manusia tidak lagi terkotak oleh sekat dogma, tetapi dipertemukan oleh kegelisahan bersama: masa depan kehidupan itu sendiri.

Sebagai upaya memahami lebih dalam, kiranya penting untuk dikaji beberapa uraian berikut yang didasarkan pada filsafat sejarah. 

Kesatu tentang kritik terhadap pemikiran akhir sejarah. Francis Fukuyama, dalam The End of History and the Last Man, menyatakan bahwa sejarah dalam pengertian konflik ideologis besar telah mencapai puncaknya pada demokrasi liberal. Namun mimpi ini justru memperlihatkan paradoks dari tesis tersebut. Jika sejarah telah “berakhir”, mengapa manusia masih berkumpul untuk membahas pencegahan kerusakan lingkungan dan nasib generasi mendatang? Seminar dalam mimpi menandakan bahwa konflik terbesar manusia modern bukan lagi ideologi politik, melainkan krisis ekologis dan krisis makna. Dengan kata lain, sejarah belum berakhir; ia hanya bergeser medan. Dari pertarungan ideologi menuju pertarungan eksistensial: antara keberlanjutan dan kehancuran.

Kedua tentang manusia pasca-sejarah dan kekosongan makna. Fukuyama juga mengingatkan tentang sosok the last man—manusia pasca-sejarah yang hidup nyaman, konsumtif, dan kehilangan tujuan transenden. Adegan makan bersama dalam mimpi, dengan hidangan yang melimpah dan halal, dapat dibaca secara dialektis. Di satu sisi, ia mencerminkan kesejahteraan dan stabilitas; di sisi lain, ia mengandung peringatan agar kelimpahan material tidak menjelma menjadi kelalaian moral. Antrian makan yang tertib dan suasana kebersamaan menandakan bahwa konsumsi masih berada dalam kerangka etika dan komunitas, bukan sekadar pemuasan nafsu individual. Ini menjadi antitesis terhadap gambaran Fukuyama tentang manusia terakhir yang apatis dan nihil makna.

Ketiga terkait etika lingkungan sebagai sejarah baru. Dari sudut filsafat lingkungan, mimpi ini menunjukkan bahwa relasi manusia–alam kini menjadi pusat sejarah baru. Suasana pedesaan, bangunan yang menyatu dengan alam, dan rasa nyaman yang muncul, menggemakan pandangan filsuf seperti Hans Jonas tentang ethics of responsibility: bahwa tindakan manusia hari ini harus mempertimbangkan keberlangsungan kehidupan di masa depan. Seminar tentang pencegahan kerusakan lingkungan menandai kebangkitan kesadaran etis global—bahwa kemajuan tanpa tanggung jawab ekologis adalah bentuk rasionalitas yang bunuh diri. Dengan demikian, mimpi ini menolak anggapan bahwa modernitas liberal telah menyelesaikan persoalan manusia.

Keempat tentang metafora filsafat sejarah. Adegan kembali ke tempat asal dan berpulang ke rumah masing-masing mengandung makna filosofis yang dalam. Dalam filsafat sejarah, “pulang” melambangkan kesadaran reflektif: manusia kembali meninjau asal-usul, nilai, dan tujuan hidupnya. Sejarah tidak bergerak lurus menuju akhir, melainkan berputar secara reflektif, sebagaimana dikatakan oleh Hegel—kesadaran manusia terus berkembang melalui krisis dan pemahaman baru. Pulang bukan akhir aktivitas, melainkan awal dari tanggung jawab personal. Apa yang didengar dalam seminar tidak berhenti sebagai wacana, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

Kesimpulan 

Secara filosofis, mimpi ini dapat dibaca sebagai kritik implisit terhadap tesis The End of History. Ia menegaskan bahwa selama manusia masih dihadapkan pada pertanyaan tentang makna hidup, keadilan ekologis, dan tanggung jawab lintas generasi, maka sejarah belum selesai. Sejarah mungkin telah berakhir sebagai konflik ideologi besar, tetapi ia lahir kembali sebagai sejarah etika. Dan masa depan manusia tidak ditentukan oleh sistem politik semata, melainkan oleh kesanggupan manusia menjaga bumi sebagai rumah bersama. ***