Minggu, 04 Desember 2022

Api Sejarah, Bukan Karya Epigon

KAMIS, 24 Juni 2010 pagi di Ruang Aula Redaksi Pikiran Rakyat, Jalan Soekarno Hatta Bandung, buku Api Sejarah (jilid dua) karya Ahmad Mansur Suryanegara kembali diperbincangkan. 

Pada diskusi kali ini hadir Prof.Dr.H.Dadang Supardan, M.Pd, seorang ketua jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, yang juga pengajar di Universitas Kebangsaan Malaysia. 

Seperti biasa, panitia menunjuk saya untuk menjadi moderator. Diskusi tanpa pembacaan ayat al-Quran dan sambutan ini dimulai pukul 09.30 hingga zuhur. Meskipun tidak sebanyak audiens saat diskusi buku Api Sejarah (jilid satu) di Pikiran Rakyat pada tahun lalu, diskusinya berlangsung hangat dan saling serang argumen. 

Sabtu, 03 Desember 2022

Membaca Sejarah dengan Perspektif Mansuriyah

SAYA mengenal sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara (AMS) saat mengikuti kuliah pengantar ilmu sejarah di jurusan sejarah peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Kemudian juga beberapa kali bertemu dalam forum diskusi, khususnya pada bedah buku “Api Sejarah” jilid satu dan jilid dua yang kini termasuk buku bestseller. 

Dari uraian-uraian AMS, khususnya dalam proses kreatif (historiografi) yang kemudian dituangkan pada buku ini, bahwa meluruskan sejarah itu rumit. Mengapa demikian? Karena sejarah seringkali ditulis untuk kepentingan politik sekaligus menunjang ideologi tertentu. 

Jumat, 02 Desember 2022

Menentukan Sahabat Nabi

 

DALAM diskusi buku SAHABAT NABI karya Dr.Fuad Jabali (16 Maret 2011) di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Jalaluddin Rakhmat (Ustadz Jalal) menjawab beberapa penanya dan mengomentari pembicaraan Fuad Jabali. 

Dalam sesi tanya jawab, ada penanya yang cukup menggelitik yang bertanya tentang pengertian sahabat dan alat uji untuk membuktikan kebenaran hadis juga sirah nabawiyyah. 

Kamis, 01 Desember 2022

Aminah, Bunda tercinta Rasulullah SAW

Ada beberapa orang yang diistimewakan berkaitan dengan kelahiran seorang manusia di dunia ini. Kita tahu Nabi Adam lahir tanpa ibu dan bapak, Nabi Isa lahir tanpa bapak, Hawa (isteri Adam) tanpa ibu, dan mungkin ada yang lainnya. Dan sebesar apapun kebesaran manusia, secara fitrah tidak terlahir begitu saja, tapi ia ada perantara yang menyebabkan lahirnya ke dunia ini. Ibu, di sini  menjadi salah satu jembatan lahir dan berkembangnya manusia. Bukankah khataminnabiyyin Muhammad  SAW pun terlahir dari seorang ibu yang bernama Aminah Binti Wahhab?