Pada waktu kecil Iqbal
belajar Islam pada ayahnya. Setiap ba`da shalat subuh Iqbal diharuskan membaca
dan menghafal Al-Quran. “Setiap hari selepas shalat subuh, aku terus membaca
Al-Quran. Ayahku memerhatikan keadaan ini dan lalu bertanya, ‘Apa yang engkau
baca?’ Aku menjawab, ‘Aku sedang membaca Al-Quran’. Selama tiga tahun ayahku
bertanya dengan pertanyaan yang sama dan aku memberikan jawaban yang sama.
Suatu hari aku bertanya kepadanya, ‘Apakah yang ada dalam dadamu wahai ayahku,
engkau bertanya dengan pertanyaan yang sama dan aku terpaksa menjawab dengan
jawaban yang sama?’Ayahku menjawab, ‘Sebenarnya aku ingin mengatakan kepadamu
wahai anakku, bacalah Al-Quran itu seolah-olah ia diturunkan kepadamu’. Sejak
itulah aku mulai mencoba memahami kandungan Al-Quran dan dari Al-Quranlah aku
mendapat cahaya inspirasi untuk sajak-sajakku,” kisahnya.[2]
Jumat, 09 Februari 2018
Islam dalam Studi Pemikiran Muhammad Iqbal
Muhammad Iqbal lahir pada
22 Februari 1873 Masehi —ada juga yang menyebut pada 9 November 1877—di
Sialkot, Punjab, India. Ayahnya, Syaikh Nur Muhammad adalah seorang sufi yang
berprofesi penjahit, dan ibunya, Imam Bibi, seorang Muslimah yang taat.
Sedangkan kakeknya yang bernama Syaikh Rafia dikenal sebagai ulama.[1]
Kamis, 08 Februari 2018
Islam dan Pembaruan: Studi Pemikiran Muhammad Abduh
Cendekiawan yang dikenal sebagai
tokoh pembaruan Islam ini bernama Muhammad bin Abduh bin Hasan Khairullah. Ia
lahir di Desa Mahallat Nashr di daerah Al-Buhairah, Mesir, tahun 1849 M. Abduh
ketika kecil oleh ayahnya dikirimkan ke Masjid Al-Ahmadi Thantha, untuk belajar
tajwid Al-Quran. Setelah dua tahun, Abduh kembali ke desanya dan dinikahkan
saat berusia 16 tahun. Karena ayahnya terus memaksanya untuk belajar di
Al-Ahmadi, Abduh pergi ke saudara-saudaranya yang berada di Syibral Khit. Di
desa inilah Abduh berguru pada Syaikh Darwisy Khidr, pamannya yang menganut
tarekat Asy-Syadziliyah. Pamannya itu yang menyemangati Abduh agar mau belajar
di Madrasah Al-Ahmadi Thanta. Atas saran dan masukan pamannya itu, Abduh
kemudian masuk ke Madrasah Al-Ahmadi Thanta, Mesir.
Senin, 05 Februari 2018
Pangalaman Sakola di Pascasarjana
Minggu, 04 Februari 2018
Aforisme Waktu
Menunggu memang sebuah harapan. Dari yang ditunggu pada yang menunggu. Banyak persoalan yang tidak tuntas hanya karena tidak bisa meluangkan waktu, atau mungkin yang lebih tepat adalah "mempersembahkan". Memang ini khusus untuk orang yang berada pada tingkat pasrah dari jiwa dan raga.
Langganan:
Postingan (Atom)