Dua cangkir kopi panas mengepul di atas meja kayu. Dua mangkuk sop daging siap santap. Di seberang Asfar, Kazib tersenyum lebar seperti biasa, sesekali melempar lelucon seolah tidak ada satu pun yang retak di antara mereka.
Asfar memandangnya lekat-lekat. Dulu, wajah itu adalah simbol keamanan---tempat di mana Asfar bisa membuang seluruh beban hidup, cerita pekerjaan yang melelahkan, hingga rasa kecewa dan rahasia pribadi. Asfar bukan hanya mengenal Kazib sebagai teman. Ia pernah membantu Kazib ketika sedang kesulitan, membuka jalan ketika Kazib membutuhkan pertolongan, bahkan membela namanya ketika orang lain meragukannya.
Karena itu, Asfar pernah mengira bahwa hubungan mereka dibangun di atas kepercayaan. Namun, belakangan Asfar mulai melihat sesuatu yang berbeda.
Ada cerita-cerita yang pernah ia sampaikan secara pribadi kepada Kazib, tetapi beberapa hari kemudian terdengar kembali dari orang lain. Mula-mula Asfar menganggapnya kebetulan. Ia mencoba berpikir positif.
Tetapi kecurigaannya semakin kuat. Sampai suatu hari, Asfar memutuskan melakukan sesuatu yang sederhana. Ia bercerita kepada Kazib.
Cerita itu terdengar sangat pribadi. Isinya menyangkut keadaan Asfar, kegelisahan yang sedang ia hadapi, dan sebuah persoalan yang---jika benar---cukup sensitif untuk membuat orang lain ikut berbicara.
Kazib mendengarkan dengan serius.
"Jangan cerita kepada siapa-siapa, ya," kata Asfar.
Kazib mengangguk. "Tenang. Aku tahu menjaga rahasia."
Asfar tersenyum. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Sebenarnya cerita Asfar itu bukan sepenuhnya kisah nyata. Sebagian memang berasal dari pengalaman Asfar, tetapi bagian pentingnya sengaja direkayasa. Asfar ingin mengetahui satu hal: seberapa amanahkah seorang teman yang selama ini ia percaya, ia bantu, dan ia perlakukan seperti saudara?
Ia tidak membutuhkan pengakuan. Ia hanya ingin melihat apa yang dilakukan Kazib ketika tidak ada yang mengawasinya. Beberapa hari kemudian, jawabannya datang.
Kazib diam-diam menceritakan kisah itu kepada seseorang yang dekat dengan penguasa. Entah karena ingin mencari perhatian, merasa memiliki informasi penting, atau sekadar tidak mampu menahan diri untuk berbicara, cerita itu kemudian bergerak dari satu telinga ke telinga lainnya.
Tidak lama kemudian, cerita tentang Asfar telah tersebar. Orang-orang mulai membicarakannya. Ada yang menambahkan bumbu. Ada yang membuat kesimpulan sendiri. Bahkan beberapa orang mulai memandang Asfar dengan cara yang berbeda. Asfar tidak marah. Ia hanya diam.
Ketika bertemu Kazib, wajahnya tetap tenang. "Kenapa diam saja? Ada masalah lagi?" tanya Kazib, mencondongkan badan dengan raut wajah penasaran yang kini tampak begitu buatan.
"Tidak ada," jawab Asfar datar sambil tersenyum tipis. "Hanya sedikit lelah."
Ada dorongan besar di dada Asfar untuk mengatakan semuanya. Ia ingin bertanya: mengapa cerita yang disampaikan secara pribadi bisa sampai kepada orang lain? Mengapa sesuatu yang dipercayakan justru dijadikan bahan pembicaraan?
Tetapi Asfar memilih menahannya. Ia tidak perlu marah untuk mengetahui karakter seseorang. Perbuatannya sudah memberikan jawaban. Sejak hari itu, Asfar mulai membangun batas.
Balasan pesan kepada Kazib yang dulu panjang kini cukup seperlunya. Obrolan mendalam tentang impian dan kekecewaan berganti dengan topik-topik aman: cuaca, berita, olahraga, politik, dan hal-hal ringan lainnya.
Ketika Kazib mencoba menggali kehidupan pribadinya, Asfar mengalihkan pembicaraan. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada caci maki. Tidak ada pengumuman bahwa persahabatan mereka telah berakhir. Asfar hanya menarik kembali sesuatu yang dahulu ia berikan dengan cuma-cuma: kepercayaan.
Kazib sempat menyadarinya. "Kamu sekarang berubah."
Asfar hanya tersenyum. "Mungkin kita memang perlu belajar menempatkan sesuatu pada tempatnya."
Kazib tidak memahami maksudnya. Sampai suatu hari, Asfar akhirnya membuka kebenaran.
"Cerita yang waktu itu aku sampaikan kepadamu," kata Asfar, "tidak sepenuhnya benar."
Kazib terdiam.
"Apa maksudmu?"
"Aku sengaja merekayasa sebagian ceritanya."
Wajah Kazib berubah. Asfar melanjutkan dengan tenang.
"Aku ingin melihat apakah cerita yang kusampaikan kepadamu akan berhenti di antara kita. Aku ingin tahu apakah orang yang selama ini kubantu dan kupercaya benar-benar bisa menjaga amanah."
Kazib tidak segera menjawab. Untuk pertama kalinya, ia kehilangan kata-kata.
"Jadi... kamu sengaja mengujiku?"
"Aku tidak ingin menjebakmu," jawab Asfar. "Aku hanya ingin tahu siapa yang sebenarnya sedang kupercayai."
Percakapan mereka berhenti di sana. Sejak saat itu, hubungan mereka tidak pernah benar-benar kembali seperti sebelumnya. Bukan karena Asfar menyimpan dendam, melainkan karena sebuah kepercayaan yang telah diuji dan terbukti rapuh tidak mungkin dikembalikan hanya dengan kata maaf.
Namun, ada satu hal yang kemudian Asfar pahami. Orang yang terbiasa membocorkan amanah biasanya tidak akan berhenti pada satu cerita. Ketika ia berbicara dengan orang lain, cerita tentang orang lain pun akan keluar dari mulutnya. Rahasia yang dititipkan kepadanya akan berubah menjadi bahan percakapan. Hari ini ia menceritakan kisahmu kepada orang lain; esok, ia bisa menceritakan kisah orang lain kepadamu. ***