Sina mengaduk tehnya untuk kesembilan kali. Lembaran daun mint di dalam cangkirnya berputar layaknya pusaran kecil. Di seberangnya, Sani duduk tegak, menatap layar ponsel yang meredup. Suara hujan di luar cafe kalah bising dari sunyi yang mengepung meja mereka—sunyi yang terasa terlalu padat, seolah kata-kata telah kehabisan alasan untuk ada.
"Kita jadi pergi minggu depan?" tanya Sina. Suaranya menggantung, tawar.
Sani berpaling. Matanya yang jernih menatap Sina sebentar,
lalu kepalanya mengangguk sekali. Pelan, anggun, tetapi tanpa denyut kehidupan.
"Pekerjaanmu bagaimana? Sudah beres?"
Sani tidak menjawab dengan bahasa. Tangannya terangkat
sedikit, jemarinya membentuk gestur lingkaran—simbol oke—lalu
kembali mendarat di atas pangkuan. Ia tidak sedang merajuk. Ia hanya tampak
telah melampaui kebutuhan untuk meyakinkan siapa pun lewat suara.
"Sani," suara Sina merendah, terselip keputusasaan
yang absurd. "Bicara padaku. Kenapa hanya gestur?"
Sani hanya menatapnya. Sudut bibirnya terangkat tipis,
membentuk lengkung yang tak bisa diterjemahkan. Ia mengetuk jemarinya dua kali
di atas meja—sebuah isyarat bahwa kenyataan di antara mereka telah selesai
dirumuskan.
Rasa asing itu kian menyiksa Sina, sebab baru dua jam lalu,
sebelum mereka bertemu di cafe ini, ia menyaksikan eksistensi Sani yang
sepenuhnya berbeda.
Melalui layar ponselnya, Sina menonton Sani melakukan live
streaming. Di hadapan ribuan penonton asing dan lingkaran cahaya ring
light, Sani adalah sosok yang teramat nyata. Suaranya mengalir deras,
merespons puluhan komentar dengan artikulasi sempurna. Di sana, kata-kata Sani
berlimpah, seolah bahasa adalah satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa ia
hidup.
Begitu ruang digital itu ditutup dan jarak di antara mereka
tersisa satu meter meja kayu, keberadaan Sani menguap menjadi abstrak. Ia
kembali menjadi bentuk tanpa wujud suara.
"Di depan kamera kamu punya ribuan kata," bisik
Sina. "Tapi di depanku, kamu cuma memilih simbol."
Sani menatap Sina datar, lalu menunjuk ponselnya, menggeleng
pelan, dan menyilangkan kedua tangannya di dada.
Pukul delapan malam, mereka berpisah tanpa ucapan sampai
jumpa. Sani hanya menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada sebelum
menghilang di balik pintu rumahnya.
Di kamar masing-masing yang gelap, ruang fisik tak lagi
berarti. Keduanya direnggut oleh kehampaan yang sama, mencari kepastian atas
keberadaan satu sama lain di tempat yang paling tidak nyata: layar kaca.
Sina merebahkan diri, jemarinya melakukan doomscrolling tanpa
henti. Di antara tumpukan arus data acak, matanya hanya berburu akun Sani. Ada
kehausan eksistensial yang membakar; ia mencari tanda bahwa dirinya pernah
benar-benar ada di dalam pikiran Sani hari ini.
Di tempat terpisah, Sani terduduk diam di kegelapan. Cahaya
biru ponsel memantul di matanya yang dingin. Jemarinya meluncur kencang
menelusuri profil Sina. Sani berburu bayangan Sina di dunia maya, berharap
menemukan sinyal keputusasaan atau jejak rasa sakit yang ditinggalkannya.
Dua jiwa yang mengalami alienasi total secara langsung, kini
saling mengonfirmasi keberadaan mereka lewat deretan piksel. Mereka saling
merindukan, tetapi hanya berani bertatap muka dalam bentuk avatar dan unggahan
yang tak pernah saling menyapa. ***