Haidar Bagir, pendiri Gerakan Islam Cinta, bukanlah sosok sembarangan. Ia dikenal sebagai cendekiawan Muslim, pendidik, sekaligus pelaku dunia penerbitan Islam. Buku ini mendapat dukungan dari Fakhruddin Faiz, Kalis Mardiasih, dan Dira Sugandi--dengan endorse pada buku--menunjukkan bahwa gagasan Islam Cinta bukanlah romantisme kosong, melainkan sebuah proyek pemikiran serius.
Salah satu kutipan kunci dalam buku ini berbunyi:
"Di dalam diri kita senantiasa berkecamuk perang besar; lalu mengapa kita masih selalu ingin berperang dengan orang lain?"
Kalimat ini menyentuh inti persoalan manusia modern: bahwa konflik sejati sering kali bukan di luar diri, melainkan di dalam jiwa.
Haidar Bagir menyusun bukunya dalam beberapa bagian penting. Di antaranya:
Pada bagian satu, ia membahas domain dan peran agama, termasuk spiritualitas dan orientasi cinta, Islam minimalis dan maksimalis, serta Islam sebagai a way of life. Islam, menurutnya, tidak boleh direduksi menjadi sekadar hukum atau simbol, tetapi harus dipahami sebagai jalan hidup yang mengarahkan manusia pada makna, kedamaian, dan cinta.
Bagian kedua buku ini mengembangkan apa yang disebut paradigma Islam cinta. Di sini, Allah dipahami sebagai Tuhan yang Maha Mencinta, Nabi Muhammad sebagai Nabi cinta, dan beragama sebagai proses membangun rasa kasih, bukan kebencian. Bahkan penderitaan dan musibah pun dipahami bukan sebagai tanda kebencian Tuhan, melainkan sebagai bagian dari kasih sayang Ilahi yang mendidik dan menyucikan manusia.
Dengan pendekatan ini, Haidar Bagir menempatkan konsep rahmah (kasih sayang) dan welas asih sebagai pusat ajaran Islam. Islam bukan agama ketakutan, bukan agama ancaman, melainkan agama yang membawa kebahagiaan, keselamatan, dan keberuntungan bagi manusia.
Bagian ketiga, yang terpenting dalam buku ini adalah pembahasan tentang hukum dan kekerasan. Haidar Bagir menolak cara pandang yang menjadikan Islam sebagai agama yang identik dengan hukuman keras dan kekerasan. Syariah dan hudud, menurutnya, harus ditafsirkan dalam kerangka cinta, keadilan, dan kemaslahatan, bukan dendam atau balas sakit hati.
Ia juga membantah anggapan bahwa Nabi Muhammad gemar memerintahkan pembunuhan terhadap orang yang berbeda keyakinan atau yang menghina beliau. Melalui penelusuran sejarah, Haidar Bagir menunjukkan bahwa banyak kisah kekerasan yang dilekatkan pada Islam telah dibesar-besarkan atau dipahami secara keliru.
Misalnya dalam kasus pengkhianatan sebagian Yahudi pada masa Nabi. Yang sering disebut sebagai “400 orang dieksekusi”, ternyata dalam fakta historis yang lebih akurat jumlahnya jauh lebih sedikit—sekitar 40 orang—sementara yang lain diampuni karena bertobat. Ini menunjukkan bahwa bahkan dalam situasi perang, Nabi lebih mengutamakan pengampunan daripada pembalasan.
Demikian pula dalam soal relasi suami-istri. Ayat dan hadis yang sering ditafsirkan sebagai legitimasi kekerasan terhadap perempuan dijelaskan sebagai simbolik dan pedagogis, bukan pembenaran atas pemukulan fisik. Islam, dalam paradigma cinta, justru mengajarkan kelembutan dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Dalam buku ini, ibadah tidak dipahami sebagai rutinitas kosong, tetapi sebagai latihan cinta. Shalat melatih kesabaran dan ketenangan. Puasa melatih empati. Zakat melatih kepedulian. Semua ibadah bertujuan membentuk manusia yang lebih lembut hatinya, lebih peduli sesamanya, dan lebih dekat dengan Tuhan yang Maha Pengasih.
Dengan demikian, Islam bukanlah proyek penaklukan, melainkan proyek penyucian jiwa dan pemanusiaan manusia.
Manifesto Islam Cinta adalah sebuah seruan agar umat Islam berhenti menjadi bagian dari lingkaran kebencian dan kekerasan. Islam tidak diturunkan untuk menjadi sumber ketakutan, tetapi untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Dalam dunia yang semakin terbelah oleh identitas dan ideologi, buku ini mengingatkan kita bahwa inti Islam adalah cinta. Jika cinta itu hilang, yang tersisa hanyalah kulit agama tanpa ruh.
Dan tanpa ruh cinta, agama hanya akan menjadi alat kekuasaan—bukan jalan keselamatan. Hatur nuhun. *** (ahmad sahidin)
