Dr. Haidar Bagir dalam bukunya Memulihkan Sekolah, Memulihkan Manusia menekankan bahwa pendidikan karakter tidak boleh hanya bersifat simbolis, tetapi harus diinternalisasi dalam budaya sekolah. Guru memegang peranan sentral sebagai teladan akhlak dan agen perubahan nilai, bukan sekadar penyampai materi. Hal ini sejalan dengan gagasan Deep Learning yang diperkenalkan oleh Michael Fullan—sebuah pendekatan pendidikan yang menumbuhkan enam kompetensi global: karakter, kewargaan, kolaborasi, komunikasi, kreativitas, dan berpikir kritis.
Deep Learning bukan hanya metode pembelajaran, melainkan kerangka kerja transformatif yang menekankan pentingnya kemitraan belajar antara siswa, guru, orang tua, dan masyarakat. Ia juga menciptakan lingkungan belajar inklusif, memanfaatkan teknologi secara bijak, serta mendorong pembelajaran yang relevan dengan kehidupan nyata.
Dalam konteks pendidikan akhlak, nilai-nilai agama dapat diintegrasikan ke dalam pendekatan Deep Learning secara harmonis. Pembelajaran tidak terbatas pada pelajaran agama formal, tetapi melebur dalam budaya sekolah—seperti shalat berjamaah, diskusi etika, proyek layanan sosial, hingga refleksi spiritual yang memupuk empati dan kesadaran moral. Guru berperan sebagai fasilitator nilai, membimbing siswa melewati pengalaman belajar yang mengasah akhlak dan akal secara bersamaan.
Kolaborasi dengan orang tua dan masyarakat juga menjadi faktor penting. Melibatkan mereka dalam kegiatan pembinaan karakter akan memperkuat kesinambungan pendidikan antara rumah dan sekolah. Teknologi, jika dimanfaatkan secara bijak, bisa menjadi alat untuk memperkuat pembelajaran nilai, misalnya melalui video anti-bullying, aplikasi refleksi diri, dan modul interaktif tentang empati.
Akhirnya, pengukuran keberhasilan pendidikan harus mencakup dimensi akhlak. Penilaian tidak cukup hanya menyoroti aspek kognitif, tetapi juga perilaku harian siswa—apakah mereka menunjukkan karakter positif, bekerja sama dengan baik, atau mampu menyelesaikan konflik secara dewasa.
Melalui integrasi pendidikan agama dan Deep Learning, sekolah dapat bertransformasi menjadi ruang yang bukan hanya mengasah intelektualitas, tetapi juga membentuk kepribadian luhur. Pendidikan akhlak menjadi bagian hidup dalam keseharian siswa, dan bukan sekadar formalitas. Dengan pendekatan ini, generasi muda dapat tumbuh sebagai insan yang berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi tantangan global dengan nilai-nilai spiritual yang kokoh.
Jika ditanya, adakah yang menanamkan karakter pada sekolah? Di kota Bandung, sekolah-sekolah Muthahhari termasuk berupaya untuk menumbuhkembangkan karakter dan nilai-nilai empati pada murid-murid. Mulai dari Sekolah Cerdas Muthahhari, SMP Bahtera, SMP Plus Muthahhari dan SMA Plus Muthahhari digaungkan kecintaan pada Al-Quran, cinta Rasulullah SAW dan Keluaragnya, dan empati pada kaum dhuafa. Bentuknya tiap unit sekolah berbeda. Misalnya di SMA Plus Muthahhari terdapat spiritual camp dengan menitipkan murid pada orangtua (oranglain) di desa tertentu. Mengikuti aktivitas harian orangtua tersebut. Murid yang bersama pertani maka ia ikut bertani. Murid yang bersama pedagang maka ikut berdagang. Aneka profesi lainnya. Dari aktivitas itu murid tumbuh empati dan merasa bertanggung jawab untuk bersama-sama membantu orangtua serta menjadi lebih berjiwa sosial. Ini memang yang dikehendaki untuk mengasah dan mewujudkan empati.
Di SMP Bahtera pernah ada kunjungan ke Panti Asuhan Anak di Kota Bandung. Melihat bayi yang ditinggalkan orangtuanya. Kemudian melakukan refleksi andaikata tidak dirawat dan diasuh oleh orangtua pasti nasibnya sama berada di panti asuhan atau mungkin tidak hidup karena dibuang ke sungai. Dari kunjungan itu diharapkan murid dapat tergugah kesadarannya untuk cinta dan sayang pada orangtua. Pada sesi ini masuk nilai-nilai agama Islam tentang birrul walidain. Hanya saja untuk porsi karakter dan empati kurang dominan dibandingkan dengan pendidikan regular. Tentu ini layak dicermati bersama agar sesuai dengan tujuan dari yang dikehendaki manajemen sekolah.
Saya kira yang dilakukan sekolah Muthahhari cukup menjadi contoh penanaman nilai karakter dan pendidikan mendalam untuk menumbuhkan empati. Jika dicari pun pasti akan ada sekolah lain yang menumbuhkan empati. Cag. ***
***
Bahan Bacaan dan Referensi:
1. Bagir, Haidar. (2019). Memulihkan Sekolah, Memulihkan Manusia. Mizan.
2. Fullan, Michael. (2018). Deep Learning: Engage the World, Change the World. Corwin Press.
3. Asrori, M. (2015). "Pendidikan Karakter Berbasis Nilai dalam Perspektif Pendidikan Islam." Jurnal Pendidikan Islam, 4(2), 341–356.
4. Wiyani, N.A. (2014). Manajemen Pendidikan Karakter di Sekolah. Yogyakarta: Pustaka Insan Madani.
5. Zubaedi. (2011). Desain Pendidikan Karakter: Konsepsi dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan. Jakarta: Kencana.
6. Hasanah, N. (2018). “Penguatan Pendidikan Karakter melalui Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.” Jurnal Pendidikan Agama Islam, 15(1), 1–18.
7. Hidayatullah, F. (2010). “Pendidikan Karakter dalam Perspektif Pendidikan Islam.” Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 16(2), 279–290.