Jalaluddin Rakhmat dalam buku Meraih Cinta
Ilahi menyatakan bahwa Allah memelihara manusia bukan hanya dengan kebahagiaan
atau kegembiraan, tapi juga dengan penderitaan dan kesedihan.
Tujuannya adalah
agar kita lebih sadar dan berupaya mencapai kesempunaan. Artinya, bahwa dengan
musibah sebenarnya kita sedang dituntut untuk peka dan peduli sekaligus berikhtiar
melakukan pemeliharaan kehidupan manusia dan alam dengan sebaik-baiknya.
Pada
konteks ini Allah percaya bahwa manusia sanggup memikul perintah dan
larangan-Nya; karena telah diberikan potensi-potensi (akal, hati dan indera)
dan kesiapan untuk menerima segala yang ada dan melekat pada dirinya (taklifi).
Artinya, dalam kehidupan di dunia ini manusia merupakan khalifah yang harus
hidup berdasarkan peran dan tugasnya serta siap bertanggungjawab atas akibat
yang akan diterimanya. Dan kita harus mulai introspeksi bahwa fenomena tersebut
merupakan teguran dari Allah atas kelalaian terhadap saudara kita dan terhadap perintah
maupun larangan-Nya.

