Senin, 05 Januari 2015

Riyadhah dalam Belajar

Salam wa rahmah. “Belajar itu bagian dari riyadhah,” kata Kang Ajid (Dr Ajid Thohir) dalam pertemuan awal perkuliahan di Pascasarjana UIN SGD Bandung. Kalau saya telusuri dari kamus bahwa riyadhah merupakan istilah yang bermakna latihan, training, dan pendidikan. Riyadhah biasanya digunakan dalam konteks sufi, tasawuf, dan tarekat.

Seorang Muslim/Muslimah yang belajar sufi atau menjadi anggota tarekat tertentu biasanya diperintahkan untuk riyadhah. Melakukan rangkaian ibadah yang bersifat akhlaq maupun syariah serta berujung pada keimanan (akidah).

Belajar di sekolah, pesantren, universitas, atau kehidupan memiliki tantangan yang berbeda. Saya pernah menjalani sekolah dari dasar hingga tinggi. Kini, yang sedang terus dijalani adalah belajar dalam kehidupan dan pascasarjana di universitas.


Untuk pesantren, saya belum mengalami secara serius. Kalau sekadar majelis ilmu setiap pekan dialami, tetapi tidak lama. Tantangan pada setiap "lembaga" tersebut terasa dan berbeda, khususnya saat menjalankan tugas-tugas.

Belajar di majelis ilmu dibutuhkan kerelaan waktu untuk hadir. Kemudian menyiapkan diri untuk menampung ilmu. Sedangkan sekolah dan universitas tantangannya: biaya dan tugas. Dua hal ini terasa berat. Biaya memerlukan dana yang mencukupi lebih dari sekadar bayar bulanan atau semesteran, tetapi hal lainnya seperti bahan bacaan (buku-buku) dan penulisan tugas. Kemudian biaya prin naskah dan jilidnya. Itu juga butuh biaya.

Sabar dan Tekun
Selain dari yang disebutkan di atas adalah kesabaran dan ketekunan. Ini memang harus dilekatkan pada diri. Kalau tidak sabar menjalani baca buku full untuk review, menulis komentar dan kritik untuk sebuah karya ilmiah, hingga menulis makalah yang bernuansa ilmiah, pasti akan cari jalan pintas dengan sekadar ambil tulisan di internet kemudian diutak atik sedikit serta ganti nama. Tentu cara demikian disebut plagiasi. Ketika S1 saya pernah lakukan untuk makalah filsafat. Ternyat bukan saya sendiri. Ada banyak orang yang melakukan jalan pintas tersebut. Sekarang ini saya sudah menjauhinya karena sesuai dengan pernyataan guru bahwa belajar harus sungguh-sungguh dan benar dalam menjalaninya.

Mengapa demikian? Karena belajar itu ibadah dan diwajibkan kepada umat Islam. Bukan hanya belajarnya yang harus sesuai akhlak saat menghadiri kuliah, bahkan menjalankan tugas pun harus penuh dengan akhlak dan keimanan. Ketika mengisi daftar hadir biasanya ada peluang untuk tidak jujur dengan menanda tangan pada hari yang tidak masuk. Hal demikian kadang masih saya temukan. Nah, ini juga bagian dari riyadhah agar menahan diri tidak berbuat demikian yang dapat mengurangi nilai dari belajar dan pahala dari Allah.

Berkah. Ini yang kadang harus ditanamkan dalam diri. Sebab konsep ini tidak jarang diabaikan sehingga anugerah Tuhan dalam menggucurkan ilmu-Nya terhalangi dengan perilaku ketidakjujuran dalam belajar.

Iradah
Kemudian yang harus ditanamkan dalam diri adalah iradah. Apabila sabar berarti menahan, iradah bermakna memiliki kemauan yang kuat. Merujuk kepada Imam Ali bin Abi Thalib ra ada dua dalam sabar: dari apa yang diinginkan dan dari yang tidak diinginkan.

Dalam belajar harus sabar dan menjalaninya dengan sungguh-sungguh. Ini yang disebut iradah. Kesungguhan dalam membaca, dalam menelaah, dalam menyampaikan kritik, dan kesungguhan dalam menulis makalah.

Nah, untuk sampai pada maqam iradah dibutuhkan kesabaran. Kesabaran dan kesungguhan perlu dilakukan dalam belajar supaya teratur dan terkontrol dengan baik. Semua aktivitas yang dijalani dalam hidup ini perlu dilakukan dengan dua bingkai: sabar dan iradah. Keduanya dilakukan seiring dengan aktivitas. Insya Allah, masalah akan terlihat bila dijalani dengan sabar dan tinggal cari solusinya dengan sungguh-sungguh.

Dalam mencari solusi tentu juga harus sabar. Sabar dari yang tidak diinginkan dengan terus berusaha meski belum menemukan jalannya. Dalam hal ini sabar menjadi bingkai dari proses belajar. Misalnya pula ada tugas dadakan untuk mengulas dan menerjemahkan teks/artikel dari Bahasa Belanda kemudian dibuat kritik terhadapnya. Harus cari solusi kalau tak bisa bahasanya dengan menerjemahkan melalui bantuan google kemudian upayakan untuk memperbaiki tata bahasa (atau supaya aurat langsung menghubungi penerjemah kalau punya uang).

Lawan dari sabar adalah tergesa-gesa. Ini yang kadang melumpuhkan akal sehat. Belum tuntas memamahi langsung serang. Belum tuntas dalam mengkaji langsung tembak. Belum beres dalam membaca buku langsung menuliskan dengan seenaknya sehingga saat diskusi tenyata tidak memiliki dasar yang kuat. Karena itu, sabar adalah obat untuk melawan ketergesa-gesaan dan mengontrol emosi. Guru saya pernah bilang: tidak pernah ada kebenaran yang disampaikan dengan emosi. Karena itu, sabar bisa disebut kunci dari kebenaran.  

Dari yang dipaparkan diketahui bahwa iradah adalah kehendak dari diri sendiri. Dalam belajar harus kuat dalam iradah. Ini biasanya menyangkut motivasi dan capaian akhir. Ibadah di dunia ini capaiannya  untuk mendapatkan pahala dan mendapatkan anugerah surga di akhirat. 

Kebahagiaan dan kenikmatan merupakan hal-hal yang terkandung dibalik aktivitas hidup, khususnya dalam belajar, yang dikejar oleh manusia. Mungkin para kiai dan ulama juga, dua hal tersebut yang dikejar. Mau di akhirat atau dunia? Saya pilih bahagia dan nikmat di dunia kemudian akhirat. Tidak ada jalan lain untuk meraihnya. Hanya dengan riyadhah cita-cita dan ibadah bisa diraih. 

Memang ada jalan pintas, yaitu menyatukan kehendak diri dengan kehendak Allah. Ini yang saya ketahui. Adakah yang lainnya? Mohon share ya… bila menemukan.

Ya Allah, bihaqqi Muhammadin wa aali Muhammad 
Wa shalli ‘ala Muhammadin wa aali Muhammad
Wa akhrijnii minalhammil ladzii anaa fiihi
Birahmatika ya Arhamarrahimiin

Bandung, 29 Shafar 1436
Ahmad Sahidin