Minggu, 18 Januari 2015

Polemik Tahlilan di Indonesia


Tahlilan bagi masyarakat Islam Indonesia bukan hal yang aneh, khususnya masyarakat Nahdlatul Ulama (NU) yang bermazhab Ahlussunah (Sunni). Kegiatan baca Quran dan doa bersama ini biasanya diselenggarakan setelah penguburan jenazah di rumah yang sedang berduka atau masjid yang berdekatan. 

Yang hadir biasanya jamaah masjid, tetangga, dan saudara-saudara terdekat yang berduka. Kegiatan ini berlangsung mulai hari pertama sampai ketujuh. Kemudian di sambung hari keempatpuluh dan hari keseratus. Selanjutnya setiap tahun ketika tiba pada hari wafatnya seseorang; maka disebut haul. 

Kegiatan tahlil dilakukan juga oleh kaum Muslim Syiah atau pengikut mazhab Ahlulbait. Saya pernah menghadiri tahlilan wafatnya seorang Muslim Syiah. Tahlilan yang digelar Muslimin Syiah hanya hari pertama dan hari empat puluh.

Bacaan yang dibaca pun sama dengan yang biasa dibaca kalangan NU: surah yaasin, tawasul, shalawat, dzikir, dan surah-surah pendek dalam Al-Quran. Kemudian ada doa khusus yang menyebutkan nama-nama para Imam dari Ahlulbait. Itu yang saya ketahui ketika ikut majelis tahlil bersama kawan Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI). 

Seluruh pengikut mazhab Ahlulbait pada tanggal 10 Muharram menyelenggarakan kegiatan Asyura untuk mengenang wafatnya Imam Husain, Cucu Nabi Muhammad saw, yang dibantai di Karbala atas perintah Yazid bin Muawiyah bin Abu Sufyan, penguasa Bani Umayyah. Sebagaimana diketahui dalam sejarah bahwa Abu Sufyan dan Muawiyah merupakan orang-orang yang memusuhi Nabi Muhammad saw dan tidak ingin Islam tegak di Makkah.  

Selain pada hari kesatu kematian, kaum Muslim Syiah menyelenggarakan juga pada hari keempat puluh yang disebut Arbain. Isinya hampir sama: mengenang kisah kematian, mengambil pelajaran (ibrah) dari kehidupan Imam Husain beserta Keluarga Nabi yang ditindas penguasa Bani Umayyah, membacakan al-Quran, shalawat, dan doa-doa. 

Di Bandung, IJABI senantiasa menyelenggarakan Asyura setiap tanggal 10 Muharram. IJABI juga menggelar Mawlid Nabi dengan kegiatan yang besar dengan mengundang makan orang-orang dhuafa. Bahkan menyelenggarakan majelis duka untuk mengenang wafat Rasulullah saw (syahadah) pada bulan Shafar (karena memang dalam sejarah Rasulullah saw wafat pada 28 Shafar). Kegiatannya diisi dengan pembacaan Quran surah Yasin, bacaan tahlilan, shalawat kepada Nabi dan keluarganya, ceramah, pembacaan kisah hidup Nabi, dan doa ziarah. 

Tidak hanya untuk wafatnya Keluarga Nabi, kegiatan tahlilan diselenggarakan pula untuk kematian ulama-ulama dan umat Islam. Baik orang yang bermazhab Ahlulbait (Syiah) maupun Ahlussunah (Sunni) biasanya juga menggelarnya. 

Kalau dilihat dari isi kegiatannya, yang dilakukan IJABI sama dengan kegiatan tahlilan atau haul yang diselenggarakan masyarakat Islam NU. Sama-sama berisi pembacaan Quran, tasbih, tahmid, takbir, shalawat, doa, dan ceramah tentang Islam. 

Guru saya yang pernah belajar di Suriah bercerita bahwa di Suriah ada kegiatan yang mirip dengan tahlilan. Di Suriah, setiap ada kematian biasanya diundang tetangga untuk menghadiri tahlilan. 

Bedanya hanya pada pembacaan Quran bersama. Kalau di Indonesia yang dibaca surah Yasin dari hari kesatu sampai ketujuh, bahkan hari empat puluh dan seratus pun surah Yasin. Wajar kalau orang-orang yang sering tahlilan hafal surah Yasin karena sering diulang-ulang. Di Suriah yang dibaca mulai dari surah Yasin untuk hari kesatu. Hari kedua dan selanjutnya pindah surah yang urutannya setelah surah Yasin sehingga setiap hari dalam tahlilan berbeda pembacaan surahnya. Yang lainnya tetap sama: doa, shalawat, tasbih, tahmid, dan ceramah agama.

Dahulu ada seorang kawan saya, alumni Pesantren Persatuan Islam, menyampaikan bahwa tahlilan yang digelar masyarakat Islam Indonesia termasuk bid’ah atau ajaran baru yang tidak dicontohkan Nabi Muhammad saw.

Kawan yang lain mengatakan bahwa tahlilan bukan bid’ah karena isi dari kegiatan tahlilan berisi hal-hal yang baik. Berdoa, shalawat, tahmid, takbir, dan membaca Quran merupakan hal yang dianjurkan Allah dan Nabi. Ada pun diselenggarakannya dengan ditentukan waktu dan secara bersama hanya soal penyesuaian. Apalagi kalau dilakukan secara bersama, nuansa kebersamaan dan ukhuwah lebih terasa ketimbang baca shalawat dan baca quran sendiri-sendiri.

Lama setelah berdiskusi dengan kawan saya itu, di perpustakaan daerah saya menemukan buku Ayat-Ayat Tahlil karya Muhammad Quraish Shihab, doktor tafsir dan hadis. 

Pak Quraish adalah mantan menteri agama dan pernah menjadi pengurus pusat organisasi Muhammadiyah serta Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sudah bukan rahasia lagi bahwa sebagian besar warga ormas Muhammadiyah tidak tahlilan. Begitu juga warga ormas Persatuan Islam (Persis) pun tidak melakukannya. Hal itu wajar karena beda dalam pemahaman dengan kaum Muslimin warga NU. 

Pak Quraish Shihab, ternyata meski berasal dari Muhammadiyah tidak anti tahlilan. Bahkan  memimpin tahlilan di Cendana Jakarta saat Ibu Tien Soeharto wafat yang diminta langsung oleh Pak Soeharto, presiden yang kedua. 

Dalam buku Ayat-Ayat Tahlil, Pak Quraish menjelaskan dalil-dalil dari tahlilan dan penjelasan berkaitan dengan ayat-ayat serta bacaan yang sering dibaca dalam acara tahlilan. Dan, yang saya ketahui bahwa sampai sekarang ini belum ditemukan dalil tegas dari Quran dan Sunnah yang menyatakan tahlilan haram. Karena itu, mungkin karena tak ada dalil yang melarang maka tahlilan sampai sekarang masih terus dijalankan kaum NU dan IJABI.