Minggu, 03 Agustus 2014

Awas Takfirisme di Sekitar Anda

“Jika saya ditanya: apakah saya Syiah atau Sunni, saya hanya akan menjawab saya muslim. Saya tidak ingin umat Islam dikotak-kotakan dalam mazhab dan aliran kecuali sebatas ilmu pengetahuan saja. Setiap orang mempunyai derajat sesuai dengan amalnya. Bukan mazhabnya atau kelompoknya,” tulis KH Jalaluddin Rakhmat dalam buletin Al-Tanwir, edisi 4 November 2001.

 
Kalau diukur dari tahun, usia catatan itu sudah sekira dua belas tahun. Meski sudah lama, semangat ukhuwahnya terasa. Sampai sekarang yang saya ketahui bahwa Ustadz Jalal masih konsern dengan gerakan ukhuwah dan mengajak umat Islam untuk mendahulukan akhlak serta bersaing dalam amal kebaikan.


Memang ada orang yang terus saja gemborkan sesuatu yang kurang baik. Terus saja bicara ngawur tanpa penelitian dan penelaahan. Yang parahnya, analisa kacangan tersebut disebarluaskan dan disebut ilmiah tanpa ada mahkamah yang menentukan standar ilmiah tidaknya.

Saya sampai sekarang masih yakin untuk menguji status ilmiah tidaknya sebuah pemikiran dan buku-buku dapat dihadapkan pada dunia akademis. 

Alhamdulillah, sampai kini terus banyak dosen dan peneliti yang menulis karya ilmiah berupa tesis dan desertasi tentang Islam, sejarah, mazhab, dan doktrin-doktrin Islam yang dianggap menyesatkan dengan hasil yang baik serta mencerahkan. Semakin terbukti bahwa yang dianggap sebagai ajaran yang menyesatkan itu ternyata memiliki dasar yang kuat dan data-data yang lengkap. Hanya catatan-catatan dan pernyataan yang kurang didukung data dan analisa ilmiah yang biasanya terus gencar memburukan dan doyan menyesatkan orang lain yang berbeda pemahaman. Yang begitu biasanya hanya menambah banyak sampah.

Meski demikian harus diakui bahwa setiap orang memiliki daya tolak dan daya tarik. Seorang yang mengenakan kaca mata merah pasti yang dilihatnya tampak merah. Daun dan batang serta lingkungan sekitarnya terlihat merah. Kalau dia pakai warna hitam, juga demikian. Segalanya pasti yang dilihat serba hitam. Coba kalau mau membuka kaca matanya pasti akan terlihat berwarna lingkungan yang ada di sekitarnya. Kalau pun tetap mau pakai kaca mata, cobalah mengenakan yang bening biar segala warna dan aneka yang berbeda terlihat dan tidak dipukul sama rata.

Salah satu contoh orang yang terpenjara dengan kaca mata (aliran dan kelompoknya) adalah menganggap dirinya paling benar, enggan menerima pendapat orang lain, dan menyatakan yang berbeda dengan kelompok, mazhab, atau pemahamannya (meski merujuk pada sumber yang sama) adalah menyimpang. Kalau Anda menemukan orang yang berpikiran atau menulis hampir dekat dengan yang disebutkan maka berhati-hatilah. Kalau bisa senyum saja. Awas takfirisme ada di sekitar Anda! *** (ahmad sahidin)