Kamis, 11 Juni 2026

Bertanya tentang Jiwa, diberi Mimpi Mati

Bertanya tentang jiwa, aku diberi mimpi mati. Bertanya tentang raga, aku diberi sakit. Bertanya tentang ada, yang muncul ketiadaan.

Kuberitahu pada diri bahwa aku fana. Entah kenapa mata dan pikiran fokus satu pandangan. Dalam dan menukik. Hingga bayang Sang Guru sekelebat hadir. Tidak menyapa. Melihat dan meninggalkan aku.

Berguncanglah dada ini. Apakah ia murka atau tidak mengenaliku. Apa yang kuperbuat hingga tak berkenan. Berguncang dan merasa tak ada daya. 

Lalu tiba kata batin. Biarkan berlalu. Karena memang begitu hidup. Tak ada daya kecuali Ilahi. Biarkan orang bicara karena ulahnya akan kembali padanya. Saya percaya dengan ini. Siap saja merasakannya.

Aku terdiam. Sejenak. Sekelebat muncul lagi pada mata dan pikiranku. Kualihkan pandangan pada buku, tetap saja muncul. Bisikku pada diri: apakah aku sedang fana? Kucari kabar sana sini. Yang berada dan mengada pada mataku dan pikiranku hilang kembali. Saat kucari hilang. Saat tak dicari kembali lagi. Apakah ini hudhuri?

Teringat pada wahdatul wujud Ibnu Arabi. Semua yang ada hanya Ilahi. Apa pun yang tampak dan masuk dalam pikiran adalah manifestasi Ilahi. Rasakan semuanya. Nikmati dengan penerimaan yang mendalam. Orang tak akan mengerti karena tidak mengalaminya. 

Seperti kata Jalaluddin Rumi bahwa al-isyq akan mengantarkan kepada Yang Sejati, yang sangat layak dirindukan. Orang yang mengalami fana karena al-isyq harus bahagia. Karena ini modal untuk sampai kepada Ilahi. Karena itu, jangan tenggelam bersama makhluk. Selayaknya meninggalkan makhluk untuk menuju Sang Khaliq. Dan saat fana kualami, tampak Sang Guru kembali melihatku. Hanya melihat. Tak menyapa dan kembali hilang. 

Teringat kata Haji Hasan Mustapa, sang begawan Sunda. Ia berkata: 


Sapanjang neangan kidul

kaler deui kaler deui

 

sapanjang neangan wetan

kulon deui kulon deui

 

Sapanjang neangan aya

euweuh deui euweuh deui.

 

Sapanjang neangan tungtung

kawit deui kawit deui

 

Sapanjang neangan tengah

sisi deui sisi deui.

 

Duh, Sang Waktu. Sang Guru dari para guru. Selimuti diriku dengan kearifanmu. Kuterima kabarmu dari narasi demi narasi. Riwayat ke riwayat hingga mata dan pikiranku tenggelam. ***