Rabu, 08 Oktober 2014

Status Aisyah Ketika Menikah dengan Nabi

Ada yang berpendapat bahwa Nabi Muhammad saw menikahi wanita setelah Khadijah, khususnya putri dari dua khalifah rasyidun adalah karena ingin mengikat persaudaraan dan siasat politik agar berada dalam naungan Islam.

Saya jadi bertanya-tanya: apakah Rasulullah saw sekadar “main-main” dalam urusan nikah dengan putri “petinggi” khulafa rasyidun atau hanya karena untuk menguatkan? Saya kira tidak serendah itu Sang Nabi (Muhammad saw) dalam melaksanakan syariat Islam, khususnya menikah.


Saya yakin ada tujuan yang lebih mengandung moral dan bernilai Islami ketimbang kepentingan hawa nafsu birahi atau politik. Jika memang itu untuk menguatkan persaudaraan atau siasat politik, tampaknya perlu bukti yang lebih kuat. 

Silakan analisa tentang nikahnya putri Abu Sufyan (ummu habibah atau ramlah, saya lupa namanya) yang dinikahi Nabi? Apakah itu menjadikan Abu Sufyan menjadi Islam sebelum peristiwa Futuh Makah (karena ia masuk Islam waktu mau futuh makah)?

Pembelaan terhadap janda dan keinginan untuk menunjukkan Islam sebagai pembela yang terindas, saya kira itu yang menjadi motivasi dari Rasulullah saw dalam menikahi mereka. Kalau soal libido, saya kira tidak masuk akal karena Nabi menikah poligami saat dirinya berusia di atas 50 tahun. Dan, konsentrasi Nabi di Madinah semakin kompleks dengan ragam masalah sehingga kalau hanya urusan berahi tampaknya tidak menjadi sesuatu yang penting.

Kemudian dalam sejarah diketahui bahwa Aisyah binti Abu Bakar yang disebut-sebut gadis ternyata seorang janda. 

Saya menemukan fakta ini dari sejarawan O.Hashem yang menyebutkan bahwa Ibnu Saad menyampaikan riwayat dari Abdullah bin Numair dari Ajilah dari Abdullah bin Abi Mulaikah bahwa Nabi Muhammad saw menikahi Aisyah yang telah ditalak oleh Jubair bin Muth’im. 

Silakan cek buku O.Hashem, Benarkah Aisyah Menikah dengan Rasulullah saw di Usia Dini? Bandung: Mizania, 2009, halaman 59-61.