Malam semakin larut. Rintik hujan di luar jendela kaca kafe kini berganti menjadi sunyi yang pekat. Hayy tidak lagi memandang ke jalanan. Pandangannya tertuju lurus pada meja kayu, seolah-olah sedang menatap jurang yang tak terlihat.
Hayy menggeser cangkir kopinya yang sudah dingin. Menatap Asfar yang memainkan ponsel. Hayy memulai pembicaraan, "Asfar, aku tidak sedang mencari pelipur lara. Aku tidak butuh ditenangkan dengan kalimat 'semua akan baik-baik saja'. Aku ingin tahu... untuk apa semua sandiwara eksistensi ini?"

