Kota itu tidak pernah benar-benar sunyi. Siang dan malam dipenuhi langkah manusia yang mengejar sesuatu yang selalu bergerak lebih cepat daripada dirinya sendiri. Gedung-gedung menjulang tinggi, pasar tak pernah kehilangan pembeli, dan perpustakaan terus melahirkan pengetahuan baru. Namun di balik segala kemajuan itu, aku sering menjumpai wajah-wajah yang letih, seolah mereka mengetahui banyak hal, tetapi kehilangan arah untuk pulang.
Ahmad Sahidin
Minggu, 13 September 2026
Sabtu, 05 September 2026
(cerpen) Jagalah Dirimu!
Perpustakaan hampir kosong. Sinar sore menyelinap di antara rak-rak buku. Aku berdiri di depan rak tasawuf. Aku lihat buku Al-Ghazali, Ibnu 'Arabi, Rumi dan Suhrawardi.
"Jagalah dirimu!" Suara itu kembali menyapa.
"Hanya itu?" tanyaku. Ia menjawab: "Bukankah cukup untuk memulai?"
Aku mengambil Ihya' 'Ulum al-Din. Aku bicara kepadanya setengah berbisik: "Buku ini memberiku banyak jawaban."
Sabtu, 29 Agustus 2026
(cerpen) Hayy vs Asfar
Malam semakin larut. Rintik hujan di luar jendela kaca kafe kini berganti menjadi sunyi yang pekat. Hayy tidak lagi memandang ke jalanan. Pandangannya tertuju lurus pada meja kayu, seolah-olah sedang menatap jurang yang tak terlihat.
Hayy menggeser cangkir kopinya yang sudah dingin. Menatap Asfar yang memainkan ponsel. Hayy memulai pembicaraan, "Asfar, aku tidak sedang mencari pelipur lara. Aku tidak butuh ditenangkan dengan kalimat 'semua akan baik-baik saja'. Aku ingin tahu... untuk apa semua sandiwara eksistensi ini?"
